Sabtu, 04 Februari 2012

perbedaan filsafat dengan agama


1.      Persamaan dan perbedaan filsafat dengan agama.

Filsafat merupakan pengetahuan tentang sesuatu yang non empirik dan non eksprimental, diperoleh manusia melalui usaha dengan pikirannya yang mendalam. Mengenai objek materialnya tidak berbeda dengan ilmu pengetahuan, yakni mengenai apa saja. Adapun yang berbeda adalah mengenai objek formalnya. Objek formal filsafat mengenai sesuatu yang menyangkup sifat dasar, arti, nilai, dan hakikat dari sesuatu. Jadi bukan sesuatu yang dapat dijangkau dengan indera dan percobaan. Menjangkaunya hanya mungkin dengan pemikiran filosofis yaitu pemikiran yang mendalam, logis dan rasional.
Sedangkan agama adalah kebenaran yang bersumber dari wahyu Tuhan mengenai berbagai hal kehidupan manusia dan lingkungannya. Jadi kebenaran agama bukan hasil usaha manusia. Manusia tinggal menerima begitu saja sebagai paket dari Tuhan.
Filsafat berdasarkan otoritas akal murni secara bebas dalam penyelidikan terhadap kenyataan dan pengalaman terutama dikaitkan dengan kehidupan manusia. Sedangkan agama mendasarkan pada otoritas wahyu.
Menurut Prof. Nasrun SH., mengemukakan bahwa filsafat yang sejati haruslah berdasarkan kepada agama. Malah filsafat yang sejati itu terkandung dalam agama. Apabila filsafat tidak berdasarkan kepada agama dan filsafat hanya semata-mata berdasarkan akal pikiran saja maka filsafat tersebut tidak akan memuat kebenaran objektif, karena yang memberikan pandangan dan putusan adalah akal pikiran. Sedangkan kesanggupan akal pikiran itu terbatas, sehingga filsafat yang berdasarkan pada akal pikiran semata tidak akan sanggup memberi keputusan bagi manusia, terutama dalam tingkat pemahamannya terhadap yang ghaib.[3]
Antara Filsafat dan Agama
Melalui uraian di atas, kita bisa mengidentifikasi bahwa pada mulanya terdapat perbedaan antara filsafat dan agama terutama dalam hal eksistensi keduanya, yakni filsafat berusaha menemukan kebenaran dengan berdasarkan akal manusia sedangkan agama adalah suatu kebenaran yang berdasarkan wahyu dari Tuhan.

Drs. H. Abu Ahmadi, dalam bukunya ”Filsafat Islam” menguraikan tentang perbedaan-perbedaan antara filsafat dan agama:

1. Filsafat berarti memikir, jadi yang penting yaitu ia dapat berpikir, sedangkan agama berarti mengabdikan diri, jadi yang penting yaitu hidup secara beragama sesuai dengan aturan-aturan agama itu.

2. Menurut William Temple, filsafat adalah menuntut pengetahuan untuk memaham, sedangkan agama menuntut pengetahuan untuk beribadat yang terutama hubungan manusia dengan Tuhan.

3. C.S. Lewis membedakan enjoyment dan contemplation, misalnya laki-laki mencintai perempuan. Rasa cinta disebut enjoyment, sedangkan memikirkan rasa cintanya disebut contemplation, yaitu memikirkan pikiran si pecinta tentang rasa cintanya itu. Sedangkan agama dapat dikiaskan dengan enjoyment atau rasa cinta seseorang, rasa pengabdian (dedication) atau contentment.

4. Filsafat banyak berhubungan dengan pikiran yang dingin dan tenang, sedangkan agama banyak berhubungan dengan hati.

5. Filsafat dapat diumpamakan seperti air telaga yang tenang dan jernih dan dapat dilihat dasarnya. Sedangkan agama dapat diumpamakan sebagai air sungai yang terjun dari bendungan dengan gemuruhnya.

6. Seorang ahli filsafat jika berhadapan dengan penganut aliran atau paham lain biasanya bersikap lunak. Sedangkan agama, bagi pemeluk-pemeluknya akan mempertahankan agamanya dengan habis-habisan, sebab mereka telah terikat dan mengabdikan diri.

7. Filsafat, walaupun bersifat tenang dalam pekerjaanya, tetapi sering mengeruhkan pikiran pemeluknya. Sedangkan agama, disamping memenuhi pemeluknya dengan semangat dan perasaan pengabdian diri, tetapi juga mempunyai efek menenangkan jiwa pemeluknya.

8. Ahli filsafat ingin mencari kelemahan dalam tiap-tiap pendirian dan argumen walaupun argumennya sendiri. Sedangkan dalam agama, filsafat sangatlah penting peranannya dalam mempelajari agama.

Demikianlah antara lain perbedaan-perbedaan antara filsafat dan agama. Perbedaan-perbedaan tersebut bukan hanya berdasarkan atas kandungan dan objek filsafat dan agama saja, akan tetapi juga membedakan antara karakter-karakter para filosof dan para agamawan. Perbedaan karakter antara keduanya tentunya dikarenakan efek dari bidang masing-masing yang mereka tekuni, sehingga kita bisa mengklasifikasi karakter mereka ke dalam tiga bagian yaitu:

1. Memegang teguh terhadap agama dan menolak filsafat. Ini adalah pendirian orang agama yang tidak berfilsafat.

2. Memegangi filsafat dan menolak agama.

Ini adalah pendirian orang yang berfilsafat dengan tidak mengindahkan kandungan-kandungan agama.

3. Mengusahakan pemaduan antara filsafat dan dengan agama menurut cara tertentu.

            Inilah cara yang ditempuh oleh seorang filosof yang beriman atau seorang filosof yang seharusnya memperhatikan kandungan-kandungan agama.

            Dalam perbedaan-perbedaan antara keduanya, setidaknya ada kesamaan-kesamaan, seperti yang dikatakan Prof. Nasrun SH. Bahwa ”Filsafat yang sejati itu terkandung dalam agama.” Untuk menggali kesamaan-kesamaan antara filsafat dan agama, penulis akan mencoba untuk menguraikan analisa al-Kindi dalam rangka untuk menemukan titik temu antara keduanya.
Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa salah satu fungsi utama filasafat adalah mencari kebenaran dengan berdasarkan nalar atau akal manusia, sedangkan agama adalah sebuah kebenaran yang berdasarkan wahyu Tuhan. Pertemuan antara keduanya sangatlah rumit untuk diwujudkan. Dalam hal ini, al-Kindi melakukan pendekatan terhadap dua subjek tersebut—yakni nalar dan wahyu—dengan dua tingkatan. Pertama, didasarkan atas kesamaan tujuan antara filsafat dan agama dan yang kedua, secara epistemologis.
Dalam tingkatan pertama, sebelum ia membentangkan pandangannya, lepas dari adanya kesamaan tujuan-tujuan antara agama dan filsafat, al-Kindi mempertahankan perlunya filsafat dan dapat disesuaikannya dengan agama. Uraian George N. Atiyeh, di dalam bukunya ”Al-Kindi Tokoh Filosof Muslim,” menampakkan kepiawaian al-Kindi dalam menghadapi serangan orang-orang yang fanatik dengan agama dan penentang kegiatan filosofis macam apapun juga, ia menyatakan:
“Filsafat adalah suatu kebutuhan, bukan suatu kemewahan. Ia mengatakan kepada orang-orang yang fanatik tersebut, bahwa mereka harus menyatakan, berfilsafat itu perlu atau tidak perlu. Jika perlu, mereka harus memberikan alasan-alasan dan argumen-argumen untuk membuktikannya. Padahal dengan memberikan alasan-alasan dan argumen-argumen tersebut, mereka pada dasarnya telah berfilsafat. Oleh karena itu filsafat adalah perlu dalam kedua hal itu.”
Pembelaan yang dikemukakan al-Kindi tersebut mempunyai arti yang sangat penting, tidak hanya karena dilakukan dalam menghadapi tantangan agama, tetapi juga diungkapkan kepada kita, bahwa al-Kindi tidak bermaksud untuk merongrong wahyu dengannya, akan tetapi sebaliknya, tujuan utamanya adalah untuk memberikan tempat bagi konsep-konsep keagamaan, diatas apa yang ia anggap merupakan landasan-landasan yang lebih kokoh dan benar, penggunaan bukti-bukti yang demonstratif.
Argumen utama yang digunakannya untuk mempertahankan filsafat adalah dengan memberikan suatu asumsi bahwa filsafat dan agama mempunyai tujuan-tujuan yang sama, yaitu pengetahuan tentang ke-esaan Tuhan dan pengejaran kebajikan. Ia menguatkan hal ini dengan mengatakan, bahwa filsafat mencakup ”teologi, ilmu pengetahuan ke-esaan Tuhan, ilmu etika, dan ilmu yang berguna bagi manusia untuk menjalankan kebaikan dan mencegah keburukan” diantara cabang-cabangnya.
Lebih lanjut al-Kindi menyatakan bahwa agama melakukan hal yang sama. Substansi semua amanat kenabian yang sebenarnya hanyalah untuk mengukuhkan ke-Ilahian Tuhan yang unik, dan memerintahkan kepada kita untuk memilih dan mengejar kebajikan-kebajikan yang paling diridlai di mata Tuhan.
Dengan kata lain, al-Kindi melihat bahwa pada tingkat teoritis agama dan filsafat menggarap suatu masalah yang sama, ke-esaan Tuhan. Juga pada tingkat praktis, keduanya mempunyai tujuan-tujuan yang tidak berbeda, yaitu mendorong manusia untuk mencapai kehidupan moral yang lebih tinggi. Oleh karena itu pada kedua tingkat tersebut pemikiran al-Kindi telah memperjelas kenyataan, bahwa tidak ada perbedaan esensial antara agama dan filsafat, oleh karena keduanya mengarah kepada hal yang sama. Disamping itu, dimasukkannya teologi di dalam filsafat oleh al-kindi, menghadapkan kita kepada suatu masalah. Jika tujuan utama filsafat untuk memperkuat kedudukan agama, maka filsafat hendaknya menjadi pembantu teologi bukan sebaliknya.

2. PEEDEBATAN ANTARA AL GHAZALI DENGAN IBNU RUSYDI 

Al-Ghazali merupakan tokoh penentang dan penyanggah falsafa (filsafat Islam) yang paling brilian. Oliver Leaman dalam Pengantar Filsafat Islam menulis bahwa Al-Ghazali seringkali menyerang para filsuf dengan dasar argumen yang mereka pergunakan sendiri, sambil menyampaikan pendapatnya secara filosofis dengan menyatakan bahwa tesis-tesis utama mereka adalah tidak benar dilihat dari sudut-sudut dasar logika itu sendiri.
Sebagai contoh, dalam bukunya The Incoherence of the philosophers (Tahafut al-Falasifah), Al-Ghazali membentangkan dua puluh pernyataan yang ia coba buktikan kesalahannya. Tujuh belas di antaranya menimbulkan bid’ah karena dianggap menyimpang dari ajaran yang asli, yakni Alquran. Dan, tiga di antaranya benar-benar membuktikan apa yang ia ka tegorikan sebagai orang yang tidak beriman, bahkan dengan tuduhan yang lebih berat lagi.
Mengenai pandangan yang keliru dari para filsuf ini, Al-Ghazali mengungkapkan pendapatnya sebagaimana ia paparkan dalam bukunya yang berjudul Munqidh min adh-Dhalal bahwa “kekeliruan para filsuf terdapat dalam ilmu-ilmu metafisik. Karena ternyata mereka tidak dapat memberikan bukti-bukti yang pasti menurut persyaratan yang mereka perkirakan ada dalam logika. Maka, dalam banyak hal mereka berbeda pendapat dalam persoalan-persoalan metafisik. Ajaran Aristoteles tentang masalah-masalah ini, sebagaimana yang dilansir oleh Farabi dan Ibnu Sina, mendekati inti pokok ajaran filsafat Islam”.
Salah satu filsuf Muslim yang mendapat kritikan dari Al-Ghazali adalah Ibnu Rusyd. Menurut Leaman, silang pendapat antara Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd sangat menarik karena argumen-argumen yang disampaikan oleh keduanya selalu melahirkan masalah-masalah khusus yang bersifat kontroversial. Contohnya adalah perdebatan Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd tentang penciptaan alam.
Tentang penciptaan alam, Al-Ghazali mempunyai konsep yang sangat berbeda dari konsepsi yang dimiliki para filsuf Muslim. Para filsuf Muslim, termasuk Ibnu Rusyd, berpendapat bahwa alam itu azali, atau qadim, yakni tidak bermula dan tidak pernah ada. Sementara itu, Al-Ghazali berpikir sebaliknya.
Bagi Al-Ghazali, bila alam itu dikatakan qadim, mustahil dapat dibayangkan bahwa alam itu diciptakan oleh Tuhan. Jadi paham qadim-nya alam membawa kepada simpulan bahwa alam itu ada dengan sendirinya, tidak diciptakan Tuhan. Dan, ini berarti bertentangan dengan ajaran Alquran yang jelas menyatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan segenap alam (langit, bumi, dan segala isinya).
Bagi Al-Ghazali, alam haruslah tidak qadim dan ini berarti pada awalnya Tuhan ada, sedangkan alam tidak ada, kemudian Tuhan menciptakan alam, alam ada di samping adanya Tuhan. Sebaliknya, bagi para filsuf Muslim, paham bahwa alam itu qadim sedikit pun tidak dipahami mereka sebagai alam yang ada dengan sendirinya. Menurut mereka, alam itu qadim justru karena Tuhan menciptakannya sejak azali/qadim. Bagi mereka, mustahil Tuhan ada sendiri tanpa mencipta pada awalnya, kemudian baru menciptakan alam.
Gambaran bahwa pada awalnya Tuhan tidak mencipta, kemudian baru menciptakan alam, menurut para filsuf Muslim, menunjukkan berubahnya Tuhan. Tuhan, menurut mereka, mustahil berubah, dan oleh sebab itu mustahil pula Tuhan berubah dari pada awalnya tidak atau belum mencipta, kemudian mencipta.
Dalam rangka menangkis serangan Al-Ghazali terhadap paham qadim-nya alam, Ibnu Rusyd menegaskan bahwa paham itu tidak bertentangan dengan ajaran Alquran. Bahkan sebaliknya, pendapat para teolog yang mengatakan bahwa alam diciptakan Tuhan dari tiada, justru tidak mempunyai dasar dalam Alquran.
Menurut Ibnu Rusyd, dari ayat-ayat Alquran (QS 11: 7; QS 41: 11; dan QS 21: 30) dapat diambil simpulan bahwa alam diciptakan Tuhan bukanlah dari tiada (al-'adam), tapi dari sesuatu yang telah ada. Ia mengungkapkan hal ini dalam kitabnya Tahafut Tahafut al-Falasifah (Kehancuran bagi Orang yang Menghancurkan Filsafat). Selain itu, ia mengingatkan bahwa paham qadim-nya alam tidaklah harus membawa kepada pengertian bahwa alam itu ada dengan sendirinya atau dijadikan oleh Tuhan.
Sementara itu, menurut Sulaiman Dunya dalam pengantarnya tentang "Al-Ghazali: Biografi dan Pemikirannya", dalam Terjemahan Tahafut al-Falasifah, karya Al-Ghazali ini belum menggambarkan secara keseluruhan pemikiran Al-Ghazali. Sebab, komentar AlGhazali tentang kehancuran para filsuf ini, kata Sulaiman, sebelum ia mendapatkan pencerahan petunjuk mengenai `ketersingkapan tabir­sufistik' (al-kasyf ash-Shufiyyah). Maksudnya, secara keseluruhan AlGhazali menerima pemikiran filsafat selama pandangan itu sesuai dengan pandangan Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW.
Perang wacana antara Al Ghazali dengan Ibnu Rusyd mencerminkan munculnya pemikiran filosofis yang cukup serius dan berpengaruh luar biasa terhadap pemahaman manusia mengenai pandangannya terhadap konsep ketuhanan dan alam semesta, yang sebenarnya jika dikaji lebih kritis, juga merupakan ‘pukulan telak’ bagi seluruh umat Islam. Umat Islam dituntut memahami dan meningkatkan kemurnian keimanan, dalam usaha memecahkan banyaknya misteri kehidupan yang tidak dijelaskan secara gamblang dalam teks Al Qur’an ataupun Al Hadits.
Keduanya, Al Ghazali dan Ibnu Rusyd adalah para pemikir cerdas yang bersikap kritis dalam mencari hakikat hidup dan pengertian-pengertian yang mungkin dapat dipahami oleh akal budi manusia. Hanya saja memang, diantara keduanya terdapat kontroversi pemahaman. Perbedaan itu adalah berupa cara mereka memahami hal-hal metafisik untuk mencapai pengertian-pengertian yang bersifat adikodrati. Maksud Al Ghazali mengkritik pemikiran filsuf-filsuf sebelumnya adalah demi mempertahankan kemurnian agama Islam. Ia mencoba menunjukkan pada interpretasi teks dengan pertimbangan yang lebih gamblang. Artinya, segala informasi yang terkandung dalam teks Al Qur’an itu sudah sempurna, sudah bisa dipahami sebagai petunjuk hidup, dengan syarat mutlak harus memiliki keimanan yang paripurna.
Berbeda dengan Al ghazali, Ibnu Rusyd bermaksud mengadakan kompromi antara filsafat dan agama yang sepintas terlihat saling berlawanan satu sama lain. Ibnu Rusyd berusaha menjelaskan teori metafisika spekulatif para filsuf sebelumnya, juga menambahkan argument pribadinya, dalam menginterpretasi firman Tuhan. Ia mencoba menjelaskan kemungkinan-kemungkinan tentang sifat-sifat Tuhan dan alam ciptaanya menggunakan akal.
Biarpun diantara keduanya terdapat pertentangan dalam hal yang paling mendasar mengenai problem ketuhanan dan alam semesta, namun keduanya sama-sama memberikan kontribusi dan pelajaran berharga yang mampu diambil hikmahnya oleh manusia, baik sebagai muslim maupun bukan. Sintesa dari perdebatan mereka mengajarkan pada pentingnya menggunakan akal yang disertai keimanan yang kuat, dalam memahami masalah-masalah rumit yang metafisis spekulatif sepertihalnya problem ketuhanan dan alam semesta. 

3. pluralisme

Definisi Pluralisme

             Secara etimologis, pluralisme agama, berasal dari dua kata yaitu “pluralisme” dan “agama”. Dalam bahasa arab diterjemahkan “al-ta’addudiyyah al-diniyyah” dan dalam bahasa inggris “religious pluralism”. Oleh karena istilah pluralisme agama ini berasal dari bahasa inggris , maka untuk mendefinisikannya secara akurat harus merujuk kepada kamus bahasa tersebut.Pluralisme berasal dari dua kata Plural dan Isme.Plural berarti jamak dan isme berarti paham. Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa arti plural adalah jamak: lebih dari satu, pluralis bersifat jamak. Pluralisme hal menngatakan banyak atau tidak satu. Pluralisme kebudayaan berbagai kebudayaan yang berbeda di suatu masyarakat. Dengan demikian pluralisme adalah memahami dan menyadari suatu kenyataan tentang adanya kemajemukan.

            Latar Belakang Munculnya Pluralisme
Sebab-sebab lahirnya teori pluralisme banyak dan beragam, Namun secara umum dapat diklasifikasikan dalam dua faktor utama yaitu faktor internal (ideologis) dan faktor eksternal.
           

Faktor ideologis (internal)
Keyakinan seseorang yang serba mutlak dan absolut dalam apa yang di yakini dan di imaninnya itu paling benar adalah alami belaka. Keyakinan akan absolutisme dan kemutlakan ini berlaku dalam hal akidah dan ideologi (baik yang berasal dari wahyu allah dan sumber lainnya).
           
Faktor Eksternal
Di samping faktor-faktor internal tersebut di atas tadi, terdapat juga dua faktor eksternal yang kuat dan mempuyai peran kunci dalam menciptakan iklim yang kondusif dan lahan yang subur bagi tumbuh berkembangnya teori pluralisme. Kedua faktor tersebut adalah faktor sosio-politis dan faktor ilmiah.
Cara Penerapan Pendidikan Pluralisme
Penerapan pendidikan pluralisme yang berbasis pada pendidikan agama pada khususnya, dapat melalui beberapa metode, sehimgga terjadi sistem pembelajaran yang efektif dan tercapai secara menyeluruh tujuan pendidikan pluralisme tersebut. Metode tersebut antara lain:
Pembiasaan, melaksanakan pembelajaran dengan membiasakan sikap dan perilaku yang baik, terutama sekali yang berhubungan dengan nilai.
Rasional, pendekatan yang mengfungsikan rasio peserta didik, sehingga isi dan nilai yang di tanamkan mudah di pahami dengan penalaran. Emosional, upaya menggugah perasaan peserta didik dalam memahami realitas keanekaragaman budaya dan agama dalam masyarakat. Fungsional, memfungsikan ajaran masing-masing agama (termasuk agama islam) terutama tentang pentingnya menghargai perbedaan dengan menekankan segi manfaat dan hikmahnya bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dengan tingkat perkembangannya.
            Bisa dijelaskan secara global bahwa yang dimaksud dengan pluralisme agama adalah pengakuan kebenaran agama–agama yang ada. Adapun penjelasan ucapan diatas bisa dijabarkan melalaui tiga versi penjelasan yang berbeda-beda:
Pertama: Tidak ada satupun agama yang memiliki muatan benar ataupun salah secara mutlak. Akan tetapi, setiap agama memiliki ajaran-ajaran yang benar sebagaimana memiliki ajaran-ajaran yang salah pula.
            Kedua: Realita dan kebenaran merupakan suatu yang tunggal. Sehingga setiap agama merupakan perwujudan dari jalan-jalan yang ada, dimana yang mampu menghantarkan kita kepada kebenaran yang tunggal tadi.

            Ketiga: Perkara-perkara yang terdapat dalam agama -seperti masalah-masalah supranatural yang bersifat non inderawi- ada kemungkinan adalah ajaran yang tidak mempunyai arti sama sekali, dan kalaulah memiliki arti ia tidak bisa ditetapkan dengan argumen oleh karena itu setiap agama mempunyai hubungan yang horizontal dan sejajar. Dimana hal tadi berarti setiap orang berhak hidup dengan agama pilihannya.
            Penjelasan makna pertama:
Pemiliki pendapat ini beranggapan bahwa kebenaran tersusun dari beberapa unsur dan bagian, dimana setiap bagian yang ada dapat kita temukan pada setiap agama. Bukan berarti suatu agama bisa disifati dengan tidak benar ataupun benar secara mutlak, karena tidak ada satu ajaranpun yang memiliki muatan baik dan benar secara mutlak. Sebagaimana tidak ada satu agamapun yang memiliki ajaran yang salah secara mutlak dan begitu pula sebaliknya. Berapa banyak ajaran Kristen yang kita temukan pula didalam ajaran Islam, oleh karena itu tidak bisa kita katakan bahwa Kristen secara mutlak batil. Begitu pula Islam, banyak pula ajarannya yang sesuai dengan ajaran Yahudi oleh karenanya tidak bisa dikatakan bahwa Yahudi ataupun Islam secara mutlak salah.
Sewaktu segala kebaikan dan kebenaran tersebar pada setiap agama maka tidak bisa kita katakan bahwa suatu agama secara mutlak salah dan agama lain secara mutlak benar. Kita harus menghormati setiap agama dan mazhab yang ada secara sama. Atas dasar itulah kitapun bisa mencomot semua ajaran-ajaran dari setiap agama, dengan arti setiap ajaran yang benar yang terdapat pada setiap agama dapat kita ambil dan kita terima. Sebagian kita bisa mengambilnya dari Yahudi sedang sebagian yang lain dari Islam dan lainnya dari agama yang lain pula.
           
Menimbang kebenaran pendapat pertama:
Pada prinsipnya, pendapat tentang adanya unsur kebenaran pada setiap agama ataupun madzhab –lepas dari sisi kuantitasnya- bisa diterima karena kebatilan mutlak dialam ini tidak akan bisa kita temukan. Ungkapan semacam ini tidak mungkin bisa diterima oleh siapapun yang berakal sehat.
Dari sisi lain, jika yang dimaksud adalah semua agama yang sekarang ini berada didunia dimana masing-masing memiliki keyakinan dan hukum-hukum yang batil serta tidak ada satu agamapun yang sempurna. Tentu, ungkapan semacam inipun tidak bisa kita terima, karena Islam berpendapat bahwa agama Ilahi dan syariat Muhammad (saww) sudah sempurna kebenarannya dan dengan turunnya Islam maka sempurna sudahlah agama dan tuntaslah nikmat yang ada. Adapun segala apapun yang ada pada agama-agama lain jika sesuai dengan Islam maka bisa dihukumi benar dan jika tidak maka dihukumi batil. Dikarenakan tidak mungkin penyembahan terhadap berhala, hewan dan sebagainya yang semua itu bertentangan dengan ruh ajaran Islam juga agama-agama monoteis yang masih orisinil dan bertentangan juga dengan ‘kejelasan esensial jiwa’ (conscience/wujdan) setiap manusia bijak dan berakal pada individu-individu pengikut agama-agama dan ajaran tersebut.
Disamping itu, Islam adalah agama yang dengan jelas menentang akan adanya keimanan terhadap sebagian ayat dan mengingkari terhadap sebagian yang lain. Islam berpendapat bahwa dengan mencomot-comot ajaran beberapa agama sama halnya dengan mengingkari seluruh ajaran agama tersebut. Ringkasnya, bahwa Islam –sebagaimana yang tercantum dalam hadits Tsaqolain (untuk berpegangan kepada Al-Quran dan Al-Ithrah .pen)- semua ajarannya mengandung kebenaran dan sama sekali tiada kebatilan didalamnya.
Penjelasan makna kedua:
Pendapat ini berdasar pada bahwa agama yang benar ibarat puncak tunggal suatu gunung, dimana semua agama yang ada didunia merupakan berbagai bentuk sarana untuk menuju fokus yang satu. Setiap agama bertujuan untuk menghantarkan kita pada kebenaran yang tunggal tadi dan pada kenyataannya semuanya berhasil sampai juga pada tujuannya. Terkadang dengan melalui jalan yang panjang dan ada juga yang hanya menempuh jalan yang sangat ringkas sekali ataupun ada juga yang sama. Seorang yang berangkat menuju masjid, gereja ataupun tempat-tempat ibadah lainnya mereka bertujuan sama yaitu menyembah Tuhan Yang Maha Esa.

            Menimbang kebenaran pendapat kedua:
Penjelasan diatas hanya bisa diidekan pada tahapan imajinasi saja. Tetapi jika dihubungkan pada kenyataan agama-agama yang ada tidak akan bisa diterapkan. Sewaktu Islam mengutarakan pendapat awalnya yaitu tentang ke-Esa-an Tuhan dan jalan keberuntungan adalah dengan menerima ajaran tauhid maka bagaimana mungkin hal tersebut disamakan dengan ajaran Kristen yang mengajak pada keyakinan trinitas? Bagaimana mungkin semua kita akan menuju pada titik yang satu? Apakah mungkin dua garis yang berseberangan dan sejajar akan bertemu pada titik yang satu? Dimana Al-Qur’an dalam menyikapi keyakinan trinitas mengatakan:

            ”karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak” (QS Maryam;90-91)

            Apakah hal tersebut dari sisi tujuannya lantas bisa disamakan dengan ajaran trinitas? Apakah mungkin bisa disamakan dan menuju jalan yang satu antara agama yang melarang untuk memakan babi dan meminum minuman yang beralkohol dengan agama yang melarangnya?

            Penjelasan pandangan ketiga:
Disini sebagian para positivis berpandangan ekstrim (ifrath) terhadap segala proposisi tersebut. Sedang sebagian lagi memberikan kemungkinan akan adanya makna dari hal tersebut, tapi mereka beranggapan hal itu tidak bisa ditetapkan secara argumentatif karena untuk sebagian orang hal tersebut boleh jadi akan menjadi baik dan benar akan tetapi untuk sebagian yang lain hal tadi buruk dan salah, atau pada waktu tertentu baik tetapi diwaktu yang lain menjadi buruk. Kita tidak memiliki pengenalan yang pasti dimana seratus persen sesuai dengan kenyataan. Keyakinan akan kebenaran dengan derajat seratus persen pada suatu proposisi menunjukkan adanya ketidaktelitian akan masalah tersebut, dan masih ada beberapa pendapat lainnya.

            Singkat kata, pandangan diatas tidak jauh dari hanya sekedar bermain dengan kata-kata saja dan hanya mengikuti selera sosial dan individual belaka. Hal itu menjadi salah satu akar pemikiran toleransi dan penyederhanaan masalah (tasahul) didunia sekarang ini.
Atas dasar pemikiran filsafat tadi sebagian orang akhirnya berpendapat tentang adanya pluralisme dalam agama dengan mengatakan bahwa dalam kamus kita sama sekali tidak ada yang namanya agama yang benar atau agama yang salah karena pemakaian kata benar dan salah dalam permasalahan tersebut sudah merupakan suatu kesalahan. Pemahaman semacam ini ada kemungkinan tidak memiliki arti sama sekali atau tidak bisa dipertimbangkan dari sisi penetapan maupun penafiannya. Dengan kata lain, bahwa dengan sedikit adanya toleransi maka dapat dikatakan bahwa seluruh agama merupakan jalan-jalan menuju satu kebenaran.
Sebagian dari ajaran-ajaran ritual keagamaan aliran-aliran terdahulu berpendapat bahwa segala yang menjelaskan tentang realita ataupun eksistensi sesuatu maka hal itu memiliki arti dan memiliki muatan benar dan salah, seperti proposisi bahwa “Tuhan Esa” hal itu sama sebagaimana masalah keharusan dan pelarangan (dalam pembahasan filsafat etika. Pen) dimana hal tersebut tidak memiliki muatan benar-salah selayaknya ucapan “keadilan harus ditegakkan” dan “dilarang berbuat zalim”.
Menimbang kebenaran pandangan ketiga:
Pembahasan tentang filsafat positivisme dalam kaitannya dengan pembahasan tentang muatan arti ungkapan-ungkapan (propositions), baik yang berhubungan dengan yang non-inderawi dan pemberian kepercayaan penuh pada indera (sensial) ataupun rasionalitas dalam masalah pengetahuan (knowledge), dimana semua itu tidak ada hubungannya langsung dengan pembahasan ini dan telah dibahas secara terperinci dalam pokok-pokok bahasan filsafat dan ephystemologi (bisa dirujuk dalam buku karya penulis tentang filsafat. pen). Oleh karenanya disini yang hanya bisa kita singgung adalah bahwa segala hal yang berhubungan dengan keilmuan manusia jika seratus persen hanya bertumpu pada hal-hal yang bersifat inderawi (empiric) saja tanpa bersandar pada sisi rasionalitas, maka tentu kita tidak dapat menerimanya. Dikarenakan untuk membuktikan benar-salah suatu permasalahan tidak cukup hanya dengan penginderaan dan eksperimen saja -akan tetapi melalui pendekatan rasiopun kebenaran bisa diketahui – kesalahan suatu proposisi bisa dilihat sebagaimana dalam berbagai pokok bahasan yang berhubungan dengan matematika ataupun filsafat- tentu pendapat diatas tidak bisa kita terima. Selain itu dengan bersandar pada ‘kejelasan esensial jiwa’ (conscience/wujdan) kita bisa dengan jelas membedakan antara proposisi-proposisi seperti “Tuhan ada” , “dilarang berlaku zalim” , “harus sholat” dan “cahaya lampu asam rasanya”. Jika proposisi pertama, kedua dan ketiga tidak memiliki arti sama sekali maka, tentu dengan yang terkandung dalam proposisi keempat dilihat dari sisi artinyapun tidak terdapat perbedaan dengan yang sebelumnya.
4. Pembutian adanya tuhan
Beriman bahwa Tuhan itu ada adalah iman yang paling utama. Jika seseorang sudah tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, maka sesungguhnya orang itu dalam kesesatan yang nyata.
Benarkah Tuhan itu ada? Kita tidak pernah melihat Tuhan. Kita juga tidak pernah bercakap-cakap dengan Tuhan. Karena itu, tidak heran jika orang-orang atheist menganggap Tuhan itu tidak ada. Cuma khayalan orang belaka.
Ada kisah zaman dulu tentang orang atheist yang tidak percaya dengan Tuhan. Dia mengajak berdebat seorang alim mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. Di antara pertanyaannya adalah: “Benarkah Tuhan itu ada” dan “Jika ada, di manakah Tuhan itu?”
Ketika orang atheist itu menunggu bersama para penduduk di kampung tersebut, orang alim itu belum juga datang. Ketika orang atheist dan para penduduk berpikir bahwa orang alim itu tidak akan datang, barulah muncul orang alim tersebut.
“Maaf jika kalian menunggu lama. Karena hujan turun deras, maka sungai menjadi banjir, sehingga jembatannya hanyut dan saya tak bisa menyeberang. Alhamdulillah tiba-tiba ada sebatang pohon yang tumbang. Kemudian, pohon tersebut terpotong-potong ranting dan dahannya dengan sendirinya, sehingga jadi satu batang yang lurus, hingga akhirnya menjadi perahu. Setelah itu, baru saya bisa menyeberangi sungai dengan perahu tersebut.” Begitu orang alim itu berkata.
Si Atheist dan juga para penduduk kampung tertawa terbahak-bahak. Dia berkata kepada orang banyak, “Orang alim ini sudah gila rupanya. Masak pohon bisa jadi perahu dengan sendirinya. Mana bisa perahu jadi dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya!” Orang banyak pun tertawa riuh.
Setelah tawa agak reda, orang alim pun berkata, “Jika kalian percaya bahwa perahu tak mungkin ada tanpa ada pembuatnya, kenapa kalian percaya bahwa bumi, langit, dan seisinya bisa ada tanpa penciptanya? Mana yang lebih sulit, membuat perahu, atau menciptakan bumi, langit, dan seisinya ini?”
Mendengar perkataan orang alim tersebut, akhirnya mereka sadar bahwa mereka telah terjebak oleh pernyataan mereka sendiri.
“Kalau begitu, jawab pertanyaanku yang kedua,” kata si Atheist. “Jika Tuhan itu ada, mengapa dia tidak kelihatan. Di mana Tuhan itu berada?” Orang atheist itu berpendapat, karena dia tidak pernah melihat Tuhan, maka Tuhan itu tidak ada.
Orang alim itu kemudian menampar pipi si atheist dengan keras, sehingga si atheist merasa kesakitan.
“Kenapa anda memukul saya? Sakit sekali.” Begitu si Atheist mengaduh.
Si Alim bertanya, “Ah mana ada sakit. Saya tidak melihat sakit. Di mana sakitnya?”
“Ini sakitnya di sini,” si Atheist menunjuk-nunjuk pipinya.
“Tidak, saya tidak melihat sakit. Apakah para hadirin melihat sakitnya?” Si Alim bertanya ke orang banyak.
Orang banyak berkata, “Tidak!”
“Nah, meski kita tidak bisa melihat sakit, bukan berarti sakit itu tidak ada. Begitu juga Tuhan. Karena kita tidak bisa melihat Tuhan, bukan berarti Tuhan itu tidak ada. Tuhan ada. Meski kita tidak bisa melihatNya, tapi kita bisa merasakan ciptaannya.” Demikian si Alim berkata.
Sederhana memang pembuktian orang alim tersebut. Tapi pernyataan bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena panca indera manusia tidak bisa mengetahui keberadaan Tuhan adalah pernyataan yang keliru.
Berapa banyak benda yang tidak bisa dilihat atau didengar manusia, tapi pada kenyataannya benda itu ada?
Betapa banyak benda langit yang jaraknya milyaran, bahkan mungkin trilyunan cahaya yang tidak pernah dilihat manusia, tapi benda itu sebenarnya ada?
Berapa banyak zakat berukuran molekul, bahkan nukleus (rambut dibelah 1 juta), sehingga manusia tak bisa melihatnya, ternyata benda itu ada? (manusia baru bisa melihatnya jika meletakan benda tersebut ke bawah mikroskop yang amat kuat).
Berapa banyak gelombang (entah radio, elektromagnetik. Listrik, dan lain-lain) yang tak bisa dilihat, tapi ternyata hal itu ada.
Benda itu ada, tapi panca indera manusia lah yang terbatas, sehingga tidak mengetahui keberadaannya.
Kemampuan manusia untuk melihat warna hanya terbatas pada beberapa frekuensi tertentu, demikian pula suara. Terkadang sinar yang amat menyilaukan bukan saja tak dapat dilihat, tapi dapat membutakan manusia. Demikian pula suara dengan frekuensi dan kekerasan tertentu selain ada yang tak bisa didengar juga ada yang mampu menghancurkan pendengaran manusia. Jika untuk mengetahui keberadaan ciptaan Allah saja manusia sudah mengalami kesulitan, apalagi untuk mengetahui keberadaan Sang Maha Pencipta!
Memang sulit membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Tapi jika kita melihat pesawat terbang, mobil, TV, dan lain-lain, sangat tidak masuk akal jika kita berkata semua itu terjadi dengan sendirinya. Pasti ada pembuatnya.
Jika benda-benda yang sederhana seperti korek api saja ada pembuatnya, apalagi dunia yang jauh lebih kompleks.
Bumi yang sekarang didiami oleh sekitar 8 milyar manusia, keliling lingkarannya sekitar 40 ribu kilometer panjangnya. Matahari, keliling lingkarannya sekitar 4,3 juta kilometer panjangnya. Matahari, dan 8 planetnya yang tergabung dalam Sistem Tata Surya, tergabung dalam galaksi Bima Sakti yang panjangnya sekitar 100 ribu tahun cahaya (kecepatan cahaya=300 ribu kilometer/detik!) bersama sekitar 100 milyar bintang lainnya. Galaksi Bima Sakti, hanyalah 1 galaksi di antara ribuan galaksi lainnya yang tergabung dalam 1 “Cluster”. Cluster ini bersama ribuan Cluster lainnya membentuk 1 Super Cluster.
Sementara ribuan Super Cluster ini akhirnya membentuk “Jagad Raya” (Universe) yang bentangannya sejauh 30 Milyar Tahun Cahaya! Harap diingat, angka 30 Milyar Tahun Cahaya baru angka estimasi saat ini, karena jarak pandang teleskop tercanggih baru sampai 15 Milyar Tahun Cahaya.
Bayangkan, jika jarak bumi dengan matahari yang 150 juta kilometer ditempuh oleh cahaya hanya dalam 8 menit, maka seluruh Jagad Raya baru bisa ditempuh selama 30 milyar tahun cahaya. Itulah kebesaran ciptaan Allah! Jika kita yakin akan kebesaran ciptaan Tuhan, maka hendaknya kita lebih meyakini lagi kebesaran penciptanya.
Dalam Al Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bintang, matahari, bulan, dan lain-lain:
“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” [Al Furqoon:61]
Ada jutaan orang yang mengatur lalu lintas jalan raya, laut, dan udara. Mercusuar sebagai penunjuk arah di bangun, demikian pula lampu merah dan radar. Menara kontrol bandara mengatur lalu lintas laut dan udara. Sementara tiap kendaraan ada pengemudinya. Bahkan untuk pesawat terbang ada Pilot dan Co-pilot, sementara di kapal laut ada Kapten, juru mudi, dan lain-lain. Toh, ribuan kecelakaan selalu terjadi di darat, laut, dan udara. Meski ada yang mengatur, tetap terjadi kecelakaan lalu lintas.
Sebaliknya, bumi, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain selalu beredar selama milyaran tahun lebih (umur bumi diperkirakan sekitar 4,5 milyar tahun) tanpa ada tabrakan. Selama milyaran tahun, tidak pernah bumi menabrak bulan, atau bulan menabrak matahari. Padahal tidak ada rambu-rambu jalan, polisi, atau pun pilot yang mengendarai. Tanpa ada Tuhan yang Maha Mengatur, tidak mungkin semua itu terjadi. Semua itu terjadi karena adanya Tuhan yang Maha Pengatur. Allah yang telah menetapkan tempat-tempat perjalanan (orbit) bagi masing-masing benda tersebut. Jika kita sungguh-sungguh memikirkan hal ini, tentu kita yakin bahwa Tuhan itu ada.
“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus:5]
“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa Siin:40]
Sungguhnya orang-orang yang memikirkan alam, insya Allah akan yakin bahwa Tuhan itu ada:
“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [Ar Ra’d:2]
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [Ali Imron:191]
Terhadap manusia-manusia yang sombong dan tidak mengakui adanya Tuhan, Allah menanyakan kepada mereka tentang makhluk ciptaannya. Manusiakah yang menciptakan, atau Tuhan yang Maha Pencipta:
“Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?” [Al Waaqi’ah:58-59]
“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?” [Al Waaqi’ah:63-64]
“Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?” [Al Waaqi’ah:72]
Di ayat lain, bahkan Allah menantang pihak lain untuk menciptakan lalat jika mereka mampu. Manusia mungkin bisa membuat robot dari bahan-bahan yang sudah diciptakan oleh Allah. Tapi untuk menciptakan seekor lalat dari tiada menjadi ada serta makhluk yang bisa bereproduksi (beranak-pinak), tak ada satu pun yang bisa menciptakannya kecuali Allah:
“…Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” [Al Hajj:73]
Sesungguhnya, masih banyak ayat-ayat Al Qur’an lainnya yang menjelaskan bahwa sesungguhnya, Tuhan itu ada, dan Dia lah yang Maha Pencipta.

5. Kebenaran agama ditinjau dari beberapa pendekatan

Pendekatan Teologis Normatif
Dalam kerangka studi agama, normativitas ajaran wahyu dibangun, dikemas dan dilakukan melaui pendekatan dautrinal teologis. Pendekatan normative ini berawal dari teks yang sudah tertulis dalam kitab suci masing-masing agama. Oleh karena itu, pandangan ini dianggap sebagai bercorak literalis dan tektualis.
Pendekatan teologis normative dalam kajian islam secara harfiah diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud, empiris, dan suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling besar dibandingkan dengan yang lainnya.
Pendekatan teologis ini berat katiannya dengan pendekatan normative yang suatu pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari tuhan yang ddalamnya belum terdapat pemikiran manusia.dalam pendekatan ini agama di lihat dari Sesuatu kebenaran mutlak dari tuhan. Pendekatan normative dapat juga dikatakan pendekatan yang bersifat domain keimanan tanpa melakukan kritis kesejarahan yang berkembang, serta tidak memperhatikan konteks kesejarahan al-quran. Pendekatan ini mengamsumsikan ajaran islam baik yang terdapat dalam al-quran, hadist, maupun istihat sebagai suatu kebenaran yang harus diterima dan tidak boleh digugat kan lagi.
Menurut abu dinata, sikap ekslufis fisme teologid dalam memandang perbedaan dan pluralitas agama sebagaimana diatas tidak sajamerugikan bagi lain tetapi juga merugikan dirinya sendiri karena sikap semacam itu sesungguhnya mempersempitkan bagi masuknya kebenaran-kebenaran baru yang bisa membuat hidup ini lebih lapang dan kaya dengan nuansa. Keterlebitan institusi dan paranata social kemasyarakatan dalam wilayah keberagamaan manusia menjadi bahan peneliti agama sehingga muncul trobosan baru untuk melihat pemikiran teologi yang termanisfestasikan dalam budaya cara lebih objektif lewat pengamatan factual. Salah satu dari teologi masa kini adalah sifat kritinya. Teologi kritis jugaterdapat lingkungan hal ini hanya dapat terjadi bila agama terbuka juga terdapat ilmu-ilmu social dan memanfaatkan ilmu tersebut bagi pengembangan teologinya.
Jika dipahami, maka akan tampak bahwa pendekatan teologis dalam memahami agama cenderung bersikap tertutup, tidka ada dialog saling menyalahkan, yang pada akhirnya terjadi pengkota-kotaan ummat, tidak ada kerjasama dan tidak terlihat adanyan kepedulian social. Akhirnya agama cenderung hanya mirip keyakinandan pembentukan sikap keras dan dampak social yang kurang baik.
Dari uraian diatas bukan berarti kita memerlukan pendekatan teologis dalam memahami agam-agama,karena tampak adanya pendekatan teologis keagamaan seseorang akan mudah chair. Proses kelembagaan prilaku keagamaan melalui mazhab-mazhab sebagaimana halnya yang terdapat dalam telogijuga jelas diperlukan.
Aplikasi pendekatan teologis.
            Dalam aplikasinya, pendekatan teologis normative barang kali tidak memenuhi kendala yang cukup berarti tetapi akan semakin rumit ketika pendekatan ini dihadapan pada realita dalam al-quran maupun hadist yang tidak tertulis seacara tertentu secara luas. Contoh yang paling kongkrit adalah adanyan ritual dalam komunitas muslim yang sudah mentradisi secara turun temurun, seperti slametan(tahlilan atau khanduri).
            Dari uraian tersebut terlihat bahwa pendekatan ini dalam memahami agama menggunakan cara berfikir, yaitu cara berfikir yang berawaldari kemungkina yang diyakini benar dan mutlak adanya sehingga tidak perlu ditanyakan lebih dulu melainkan dimulai dari keyakinan yang selanjutnya diperkuat dalil-dalil dan argumentasi.
            Seiring perkembangan zaman yang selalu berubah dan disertai dengan munculnya berbagai persoalan baru dalam kehidupan manusia, maka menjadi sebuah keniscayaan untuk memahami agama sesuai dengan zamannya.
            Dalam kaitannnya ini agama tampil prima dengan seperangkat cirri khasnya agama islam secara normative pasti benar dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, untuk bidang social agama tampil menawarkan nilai-nilai kemanusian, kebersamaan, kesetia kawanan, tolong menolong, tegang rasa, persamaan derajat, dan sebaginya. Untuk bidang ekonomi agama tampil menawarkan keadilan, kebersamaa, kejujran, dan saling menguntunkan. Untuk bidang ilmu pengetahuan agama tampil mendorong pemeluknya agar memiliki pengetahuan dan teknologi yang setinggi-tingginya menguasai ketrampilan keahlian dan sebagainya. Demikian pula untuk bidang kesehatan,lingkungan hidup, kebudayaan, politik, dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar